Lebaran Haji

6 Nov

Diberitahukan kepada para penonton setia Shaun the Sheep, beberapa hari lagi penayangan serial tersebut akan segera berakhir.

-Salam manis Panitia Qurban-

(fym)

15 Oct

Mari kita berusaha jadi muslimah seutuhnya.

That was my friend word.  Seorang teman yang sangat baik yang caree bgt sm saya. (Thx God) . Maybe, she is upset with me. I still didn’t inherit some good properties in live,, and that because I’m not trying.  Or I’m just to lazy.

Jadi saya berusaha mendefinisikan muslimah yg complete collection itu seperti apa, here it is :

Muslimah yang oke itu harus punya:

- Ucapan yang baik kepada teman dan orang tua, yang tidak melukai sesama

- Candaan Flamboyan

- Kamar bersih rapi harum mewangiiii

- Hidup yang terencana

- Pemikiran yang thoughtful dan memiliki Plan A, B, C, dst.

- Passion untuk mewujudkan mimpi yang sudah ditemukan

- Quick thinking, berpikir cepat saat mengambil keputusan

- Tepat janji

- On Time

- Langsing

- Sehari 24 jam, ga wasting time sama hal yg ga ada manfaatnya buat orang lain.

- Sadar kodratnya sebagai wanita, tidak meninggalkan kodrat asli

- Sayang sama suami, anak-anak, selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik.

Kalo dari segi ibadah ….

- Hapal dan paham minimal 3 juz

- Hobi sholat tahajud

- Sholat khusyu’ dan di awal waktu

- Mengerti masalah fiqih wanita, aqidah mantap.

- Rajin mengupgrade diri dengan istiqomah datang ke majelis ilmu/ membaca.

Gotta go for now, have an appointment w/ my best friend, I’ll update it later ^^

5 Oct

Why aren’t setting high standard for your academic achievement?

After all, you’re brilliant.

Such a waste…

6 Jun

I really miss it too ……..

Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan
Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab, Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan

(HR. Ahmad dan Thabrani)

Jadikan kami di antara hamba-hambaMu yang shalih yang menwarisi Firdaus dan kekal di dalamnya

(QS Al Mukminun:11)

Amiinn….

Tidak terasa satu tahun segera terlewati, banyak hal yang terjadi, saya merasa bermakna sekali setahun ini

saya selalu merasa bahwa awal tahun adalah Ramadhan,

bagaimana kelanjutan hidup saya setahun berikutnya, ditentukan dengan bagaimana saya menjalani Ramadhan tahun tersebut,

Ramadhan kemarin, wallahu a’lam, adalah Ramadhan terbaik dalam hidup saya.

P3R adalah salah satu pewarnanya.  Dapat melayani umat, dapat membuat orang lain bahagia, dapat mewujudkan ide menjadi realita,, adalah beberapa hal yang membuat saya bahagia.  Sebuah titik balik lain dalam hidup saya.

Semoga P3R 1432 H lebih baik lagi (saya optimis),, semoga Ramadhan kali ini bagi kita semua umat Muslim sedunia, lebih baik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Sampaikanlah kami pada Bulan-Mu yang suci, Ya Rabb…. amiinn…

Tags: , , ,

Le Grand Voyage

12 Apr

Oke, jadi begini ceritanya,,

Saya pengen banget ke Mekkah . Jauh sebelum saya tau kalo temen2 saya tyt udah banyak yg ke sana buat umroh/ haji (makin mupeng) (cess) . Dan saya rasa efeknya sangat baik . Krasa perbedaannya mereka lebih hanif (lurus) . Kayanya bagus bet buat saya yang sering terbolak-balik ini .

Jadi rencananya, saya pengen umroh nih kawan-kawan. hee..

Tentu pertanyaan pertama yang muncul adalah:

Duit darimanee…?  <– mungkin hal ini bukan masalah buat beberapa orang tapi tentu menjadi constraint utama buat saya.

Belasan juta . auoo~

Namun, tanpa dinyana-nyana dua orang teman saya yang sholehah setelah sholat menggelontorakan jawabannya .

‘Jadi gini, Tih,, kita punya rencana setelah lulus ini kita bakalan umroh.  ’

Saya : (excited-wow) Hah, lah, duitnya pegimane dapetnya?

‘Hfufufufu, jadi kita di ITB ini tinggal berapa semester, Tih??’

Saya : ‘Umm.. 4 Semester, Ca (ee, keceplosan nyebutin nama)’

‘Naah,, kalo kita bisa dapet beasiswa PPA tiap semester maka 350.000*12*2=8.400.000 .  Asumsi dana buat umroh 12.000.000 (gatau nih uang segini dapet akomodasi macem apa, hha3) jadi kurangnya 3.600.000′

‘Itu bisa cari-cari dari mana lah yaa..’

Saya : ‘Oh iya, bener juga, kalo dapet PKM n PMW bisa nutup tuh (orang yg ga’ sadar kalo duit PKM n PMW bukan buat hadiah cuma-cuma krn bikin proposal).’  ’Ato ga dari jual Ciwawa 2.000(profit)*20(jml Ciwawa yg bsa dbawa dlm satu hari)*15(jml hari jualan)=600.000 . Kalo jualan 4 bulan berarti 600.000*4 = 2.400.000 .’

‘Oke, pokoknya kita harus semangaaat…~’

Saya : (y)

Itulah, ternyata it is possible .

Karena bayarnya pake Dollar (bukan the dollars Durarara!!) , kayanya duitnya harus nuker dari sekarang deh . mumpung Dollar lagi turun banget . (8000 sahaja, brew!)

Menurut gw ini adalah ide brilian . Ke tanah suci untuk beribadah lebih khusyu’ dan klimaks .  Karena setelah lulus, adalah sebuah medan di mana sejuta kemungkinan terhampar di depan mata . Mana yg akan kita ambil, sebenarnya kita tidak tahu baik buruk yang tersembunyi di baliknya .  Dan Allah-lah Yang Maha Tahu . Sedang Mekkah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.

“Para jamaah haji dan umroh adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkan (permintaan mereka), dan jika mereka beristighfar niscaya Dia akan memberikan ampunan kepada mereka.” (HR. An-Nasa`i)

Setelah lulus, kita bakal jarang kumpul teman-teman sholeh lagi untuk saling mengingatkan, tidak terikat dalam aktivitas dakwah (scr keorganisasian), dan hal itu sangat riskan menurut saya . Mengembara dalam belantara kehidupan sebenarnya dimana ideologi dihantamkan dengan realita .  Maka dari itu sangat layak dan sangat layak (diulang dua kali biar lebih dramatis) bila kita memohon ditunjukkan jalan yang lurus, dijaga dari keburukan-keburukan dunia, dipilihkan pilihan-pilihan yang terbaik, mengakhiri episode dunia dengan cara husnul khotimah.

Masalah yang muncul skrg adalah hape saya ilang dan pengen beli yang baru pake duit sendiri . Jadi nanti begitu duit beasiswa keluar langsung dipake beli . (berarti harus cari tambahan 1.200.000) (ngek) . Terus salah satu temen saya yg mau ikut ini, dapet exchange ke Osaka selama setahun . Which is mundur setahun dong (tp gatau diambil apa ga gara2 gempa kemaren. bayangin, paginya dia cerita ke saya dapet beasiswa itu, sorenya ada berita Jepang kena gempa (masyaAllah))  . Trus saya pengen extend juga se-semester buat ambil Agriculture di Nagoya (Ya Allah, bila itu baik, sampaikan..) . Jadi mah intinya kayanya itu bukan masalah . Hha . Malah bisa cari duit dari part time yang katanya cuci piring aja 100.000/ jam . huwo o o .

Bila disampaikan umur oleh-Nya, maka saat yang paling tepat untuk pergi ke tanah suci adalah Juli 2013 . Itu pas bulan Ramadhan . Huahh, bayangkan tuhh. Bayangkan, resapi, Ramadhan di Indonesia aja udah emezing!  Apalagi Ramadhan, sholat Tarawih di Masjidil Haram yang pahala sholatnya 100.000 kali lipat dari sholat di masjid biasa.

:D :D :D

Bismillahi tawakkaltu ‘alAllah, tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah .

Constraint yang lainnya, cowok buat nemenin . Masa’ iye, 3 orang cewe imyut geret-geret koper sendirian, jalan-jalan di gurun sendirian, makan buffet sendirian (??) . Sampe sekarang mahram cowok saya cuma 4 . Dua kakak saya, papah, sama embah.  Berarti kalo mau ngajak salah satunya, harus nambah dana, dong.. Preparasinya kumaha?  Smoga kakak saya udah pada dapet kerjaan dan bisa nabung pas itu . amiinn.. (udah ngomong sih) . kalo ga bisa ngajak kakak, terpaksa…. ngajak cowok gue pas itu (a.k.a. ojob a.k.a. bojo a.k.a. husband) <– ga jelas >,< . Ya, siapa yg tau kan masa depan .

Constrain lagi, terjadinya inflasi .  Duit 4 juta yang saya punya sekarang, dengan rate 5%, 2 tahun mendatang akan menjadi 3.628.000 rupiah . :| . Ga enaknya pake duit kertas . Diboongin dech ama sistem . Mau ditaro bank doank juga kepotong biaya administrasi . Mau reksadana masi ga ngerti, mau beli saham duit segitu dapet saham pabrik krupuk (klo udh ada yg go public) . Sejujurnya saya juga ga gitu belajar investasi (kabur SCM pas Ektek) . Eh, tapi prnah nyelenggarain seminar Bisnis Online dan Investasi . Nih slide nya –> Bisnis Online dan Investasi Hb . Tapi kebanyakan hukum bisnis online nya . #kunyah2

Udah ah, pokoke konstren (baca : constraint) harus diatasi .

Lalu motivasi selanjutnya, pengen napak tilas kehidupan Rasulullah SAW.  Pasti kerasa banget feelnya, misal pas lo berdiri di depan Sumur Badar,kamu bakalan bayangin di sinilah kisah epik itu.  300 orang Muslim vs 1.000 orang kafir Quraisy .  Terus di depan kamu, perang itu seakan-akan terjadi .  Saat Allah mengirimkan bantuan 3.000 malaikatNya dan orang-orang kafir Quraisy kocar-kacir.

Ketika matahari sore yang menyinari bukit berpasir itu mulai menghilang di balik cakrawala, hanya tinggal kaum Muslim yang ada di padang itu.  Berkat pertolonga Allah, hari yang besar telah berlangsung di Perang Badar. Keberhasilan dan kemenangan ini terus diceritakan dengan penuh kegembiraan selama berabad-abad.

Atau ketika dulu Rasulullah SAW menyeru kepada Islam, bayangkan udara gurun yang kering dan panas saat itu-yang bisa kau rasakan sekarang-, sholat di masjid sederhana yang bila hujan janggut beliau basah karena atapnya hanya pelepah kurma . Bandingkan dengan kehidupan kita sekarang . Beban hidup segini aja udah ngeluh?  Pengen nangis, euy.

Dan lagi, Mekkah merupakan tempat yang paling dicintai Nabi Solallahu ‘Alaihi Wassalam

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)”

Dalem banget . Sejak kecil Rasulullah tinggal di Mekkah gtu . Gue cinta yang Rasulullah SAW cinta .

Dan ternyata Allah memberikan kemenangan dengan hijrahnya Rasulullah ke Madinah ini . Karena, kontras dengan Mekkah, Madinah sangat welcome dengan Islam . Selengkapnya, baca Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) dijamin pengen nangis . Buku sirah banyak baget, salah satu yang bagus, karangan Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury .

Motivasi lain? Masih banyak . terlalu banyak motif untuk pergi ke Arab . Lebih banyak dari saat saya harus pergi ke negara lain di luar . hah hi .

I wanna go there!

Bismillah ,, panggil aku ke rumahmu, Ya Allah . Jadikanlah aku dapat memenuhi panggilanmu . amin .

(ditulis untuk memotivasi diri sendiri yang sedang de-motivated dan memotivasi teman2 lain . yang mau bergabung dengan proyek ini, mari bermimpi dan beraksi bersama :) . contact me )

Tags: , , , , , , ,

Hati Anti Cenat Cenut

4 Mar

Anda sering mengalami gejala kelabilan akut?
atau galau berkepanjangan?
itu semua merupakan efek dari hati yang sakit dan cenat-cenut ga karuan
 
Solusinya??
temukan resepnya di sini..
 
Hati dalam bahasa arab disebut dengan istilah “qalbu”
 
Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan. Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur’an.
 
Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:
 
1.Mengembara ke Akhirat
Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda,
 
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)
 
Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.
 
2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata’ala
Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.
 
Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia.
Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata’ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.
 
Abul Husain al-Warraq berkata,
“Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”
 
Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata’ala lebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.
 
3.Tidak Bosan Berdzikir
Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata’ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.
 
4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir
Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.
 
5. Rindu Beribadah
Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.
 
6.Khusyu’ dalam Shalat
Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.
 
7.Kemauannya Hanya kepada Allah
Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata’ala.
 
8. Menjaga Waktu
Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.
 
9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata’ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
 
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.
 
 
Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata’ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,
 
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)
 
Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.
 
Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.
 
Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.”
 
Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.”
 
Semoga Allah subhanahu wata’ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.
 
Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halab
Rewritten by : Lintang W.M.

21 Feb

and don’t forget, be ready for the after-life

Tags:

Ta’lim Antar LDPS

13 Feb

Learn Japanese from Detective Conan

4 Feb

I took it from http://detectiveconanfanclub.com/others/learn-japanese

Note that macrons (ā, ē, ī, ō, ū) represent prolonged vowels. In Japanese, prolonged vowels are held for twice as long as normal vowels.

The following are a list of words that appear very often in Detective Conan:

Word Rōmaji Meaning
殺人 satsujin murder
事件 jiken (criminal) case
事故 jiko accident
推理 suiri reasoning
証拠 shōko evidence
犯人 hannin criminal/culprit
警察 keisatsu police
警部 keibu inspector

The following table shows how family members are addressed in Japan.

  • The “polite” form: Used when addressing the listener’s family members
  • The “humble” form: Used when speaking about your own family members

To illustrate the above, when I talk about “your father” I will say “otousan”, while “my father” will be “chichi”.

Word Romaji Meaning Word Romaji Meaning
お父さん otousan     (polite) father お母さん okaasan (polite) mother
chichi    (humble) haha (humble)
ご子息 goshisoku  (polite) son お嬢さん ojousan (polite) daughter
息子 musuko (humble) musume (humble)
お兄さん oniisan       (polite) elder brother お姉さん oneesan (polite) elder sister
ani         (humble) ane (humble)
弟さん otoutosan (polite) younger
brother
妹さん imoutosan (polite) younger sister
otouto   (humble) imouto (humble)
おじいさん ojiisan       (polite) grandfather おばあさん obaasan (polite) grandmother
祖父 sofu        (humble) 祖母 sobo (humble)

Detective Conan’s tagline:

One truth prevails!
真実はいつも一つ!
shinjitsu wa itsumo hitotsu!

Explanation:

Word Rōmaji Meaning
真実 shinjitsu truth
いつも itsumo always
一つ hitotsu one

As you can see, the line literally means “there is always only one truth”.

Tags: , , , , , ,

THE 100 MOST ESSENTIAL WORDS IN ANIME

3 Feb

(I found this article when I still like anime , though now I’m not :D )

by David Soler

Note: Since I want this to be readable in programs with no formatting ability, I’m employing a modified romanization system. Instead of putting a diacritical marking above an “o” to indicate a doubled length, I’ll write out “ou.” I’m assuming that readers will be familiar with the standard romanization system. If not, any pocket Japanese-English dictionary will provide a complete explanation of Japanese romanization.

Disclaimers: This glossary contains my choice of the 100 words which I deem to be most common and/or essential in anime. Obviously, my opinion is different from that of others. Students of Japanese should also be cautioned against using this vocabulary without regard to proper context. To choose an obvious example, don’t attempt curses outside of you close circle of friends. My friend Akihiko Watanabe has graciously consented to proofread my work. Of course, any errors which remain are strictly my own.

1. abunai- dangerous.

The term has a broader application in Japanese than a direct translation would suggest, being employed in situations where an English speaker would say “Duck!” or “Look out!” Another common usage is as a euphemism for “deviant,” i.e. a “dangerous” relationship (abunai kankei).

2. ai- love.

If a native speaker wanted to specify romantic love, he would use the character pronounced koi (or ren, depending on the context).

3. aite- opponent.

Be careful, the word has many applications that are counter-intuitive. A more literal reading of the characters would be “the one whom I must face.” As a result, the word can also refer to one’s dancing partner or the person whom you are addressing in a two-person conversation.

4. akuma- Satan, Devil.

As with it’s English counterparts, this word can be used figuratively.

5. arigatou- Thanks.

The full formula is arigatou gozaimasu.

6. baka- an all-purpose insult denigrating the subject’s intelligence.

Depending on tone of voice and other factors, it can range in severity from “silly” to “retard.” Other similar insults are aho and manuke, although manuke is more specifically “dolt, buffoon.”

7. bakemono- monster.

8. be-da!- the sound made by Japanese when they perform akanbe,

a gesture of contempt made by sticking out the tongue and bringing down one lower eyelid. The gesture is analogous to a Bronx cheer or “Nyah nyah nyah nyah nyah.”

9. bijin- a beautiful woman.

In terms of frequency and usage, it’s best likened to “babe.” However, it’s still acceptable in formal speech registers, so is not inherently disrespectful.

10. chigau- a verb meaning “to deviate, be different.”

In standard Japanese, it’s used to declare that someone is wrong. When shouted as an explanation, it’s meaning is closer to “No way!” or “Don’t be ridiculous!/You are SO off-base!”

11. chikara- strength, power.

12. chikusho- an exclamation of frustration,

equivalent to “Damn!” or “Shit!” Comparable exclamations are kuso (literally “shit”) and shimatta.

13. chotto- a little.

Differs from its English counterpart in that it can only be used as an adverb. (The adjectival form is chiisai.) When exclaimed, it means “Hold it!” or “Cut it out!”

14. daijoubu- O.K.

Most often encountered in anime when one character inquires as to another’s health.

15. damaru- be still, silent.

Most often found in its imperative form, Damare!, meaning “Shut up!/Silence!”

16. damasu- to deceive.

Often encountered in its passive form, damasareru, “to be tricked.”

17. dame- bad, no good; no can do.

One very common usage is dame desu/dame da, uttered when refusing permission or indicating that something is a bad idea.

18. dare- who.

Note that certain particles placed after the word will alter its meaning, i.e. dareka-someone, anyone daremo-no one daredemo-everyone.

19. doko- where.

20. fuzakeru- to play games, fool around.

It can also be shaded by tone of voice to assume a harsher meaning, like “bullshitting” or “screw/fuck around.”

21. gaki- young, immature person.

Often translated as “brat” or “punk.”

22. gambaru- a literal reading of the characters would be “to adhere to something with tenacity.”

A very popular term used when encouraging someone is a difficult task. Some English translations are “Hang in there!,” “Don’t give up!,” “Do your best!,” and “Give it your all!” Note: the verb phrase shikkari suru has an overlapping meaning, but slightly different connotations. Apparently, the latter term implies use of innate abilities as opposed to a conscious act of willpower. The two are generally interchangeable, though. The command forms of “gambaru” are “gambatte” and “gambare.”

23. hayai- quick, fast, early.

The adverbial form hayaku means “Hurry up!” when exclaimed.

24. hen- strange, weird.

In compound noun phrases, it assumes an older meaning of “change, transformation.” One such compound that’s especially popular in anime is henshin, meaning “physical transformation” a la Sailor Moon and Voltron.

25. hentai-

although a hen compound, it merits a separate entry. Its classical meaning is “metamorphosis, transformation.” It later came to mean “abnormality,” and in modern colloquial Japanese is used almost exclusively to mean “pervert” or “perversion.” When a woman insults a man in anime, she generally uses on of three terms: hentai, sukebe, and etchi. Sukebe implies “oversexed” rather than “deviant.” Etchi can be quite mild in some contexts, comparable to “lewd” or “Fresh!” These three terms are often used interchangeably, especially when someone is stringing together insults. Though not as frequent, the word (o-)kama refers specifically to transvestitism and other gender-bending actions associated with homosexuality.

26. hidoi- severe, harsh.

As an exclamation, it means “How terrible!” or “That’s harsh/cold!” A spoken variant is “Hide-e!”

27. hime- princess.

28. ii- good.

An older variant, still current, is yoi. Yoku is the abverbial form. Yokatta is the familiar past tense. When used as an exclamation, it can mean “That’s great!,” but is usually better translated as “I’m so glad!”

29. iku- to go.

Common conjugated forms are ikimashou, ikou, (Shall we go?/Let’s go), ike and ikinasai (Go!/Begone!).

30. inochi- life.

There are a couple of words in Japanese which can be translated as “life,” but inochi is the proper term in the more dramatic situations common in anime, such as “to stake one’s life,” “to take a life” and “more important than life.”

31. itai- hurt, pain; painful.

A common explanation, it’s equivalent to “Ouch!” A frequent spoken variant is Ite-e!

32. jigoku- Hell. Hades.

33. joshikousei- a female high school student.

That’s the literal meaning, anyway. In Japan, it invariably refers specifically to a cute high school girl in a sailor uniform. That Japanese has such a compact, productive phrase for this image implies that it’s an important archetype in the Japanese psyche.

34. kamawanai- regardless of.

When uttered as an exclamation, it means “I don’t care!” Kamawan is a more brusque spoken variant.

35. kami- God, god.

This term can also be applied to any supernatural being with a specific domain/charge/sphere.

36. kanarazu- an adverbial prefix indicating something will happen

surely and/or inevitably. As an exclamation, it means “I swear it!” or “No matter the cost!”

37. kareshi- boyfriend.

Kanojo is the equivalent word for “girlfriend.” Koibito can be applied to both sexes, but it implies a more serious relationship.

38. kawaii- cute.

More than a mere adjective, kawaii qualifies as an aesthetic and an obsession in Japan. A less common, secondary meaning is “cherished, beloved.” Note: kawai sou means “How sad” or “How pitiful.”

39. kedo- but, but still.

More formal variants are keredo and keredomo. The latter form is generally restricted to writing Japanese nowadays.

40. kega- wound, injury.

It’s also possible to use this term to refer to a spiritual violation or defilement.

41. keisatsu- Police.

42. ki-

this term is used in countless compounds and idioms. Although there are too many to describe in detail, “ki” is generally used in two senses. One is its literal meaning of “air.” The other is its figurative meaning of “spiritual essence.” Many English speakers know this concept through the Chinese loan word “chi.” One common compound is kimochi, the chi one bears, hence “mood.”

43. kokoro- heart.

Common extensions of this meaning are “sincerity” and “spirit/willpower.”

44. korosu- to kill.

Often occurring in the passive past tense (korosareta) and imperative tense (Korose).

45. kowai- to be frightful, afraid.

The exclamation Kowaii! Can be translated as either “Scary thought!” or “I’m scared!,” depending on the context.

46. kuru- to come.

It’s command form, Koi!, can mean either “Come here!” or “Come on!”

47. mahou- magic, magic spell.

48. makaseru- to place one’s trust in someone or something,

to count on.

49. makeru- to lose.

The phrase Makeru mon ka! Means “I can’t/won’t give up!” or “I’ll never give up!”

50. mamoru- to protect, guard.

The inflected form most commonly found in anime is mamotte ageru, “I’ll protect you.”

51. masaka- Can it be?; It can’t be!, No!

52. matsu- to wait.

The shouted command “Wait” is “Matte (kudasai)!” or “Machinasai!” Mate! is an abbreviated form of Matte!

53. mochiron- of course, without a doubt.

54. mou- already.

As an exclamation of frustration, it means “Enough!” or “Geez!”

55. musume- young woman.

As an epithet, ko musume is stronger than a literal translation of “little girl” would suggest. When used in this sense, “girlie” or “bitch” come closer to capturing the meaning.

56. naka- a word referring to one’s relations, both familial and platonic.

Nakayoku suru means “to get along.” “Nakama” means “close friend(s)” or “trusted ally(-ies).”

57. nani- what.

58. naruhodo- I see.; So.

59. nigeru- to flee.

Often used in the imperative form, Nigete! or Nigero!, in which case it’s best translated as “Run!” or “Get away!”

60. ningen- human; humanity.

Refers to mankind as a species, especially when contrasted with alien races, demons, elves, etc.

61. ohayou- abbreviated form of ohayou gozaimasu, “good morning.”

Men have the option of using the reduced form ossu in casual speech.

62. okoru- to get angry.

63. onegai- truncated form of onegai shimasu, “I beg of you,” “Please” or “Pretty please.”

Without the o- prefix, it means “wish.”

64. oni- demon, ogre, or any other supernatural life form inimical to mankind.

65. Ryoukai!- message received and understood-”Roger!”

66. Saa- a noncommittal reply indicating that one has understood a statement and given it serious thought.

Some possible translations are “So!,” “Well!,” and “Beats me!” (A good English equivalent might be the British “Innit?”)

67. sasuga- a person is living up to his reputation or the speaker’s personal expectations.

Yahari, on the other hand, refers to situations proceeding as expected or dreaded. (Yahari is often translated as “I knew it!” when used in exclamatory mode.) Yappari is a more casual variant of yahari. Other like terms are aikawarazu, “the same as always,” and Sono touri, which means just so when employed as a response to a question.

68. sempai- anyone who is one’s senior in a hierarchical organization.

The term cuts across all classes and occupations, and must be translated according to context.

69. shikashi- however, but, nevertheless.

70. shikata ga nai- an expression meaning “No help for it,” “No way to avoid it,” “Nothing left but to deal with it.”

Shou ga nai is an abbreviated form.

71. shinjiru- to believe in.

The inflected form most frequently encountered in anime is shinjirarenai, “I can’t believe it!”

72. shinu- to die.

The most common inflected forms are Shinda, “Dead.”, Shinanaide!, “Don’t die!”, and Shi’ne!, “Die!”

73. shitsukoi- persistent, relentless,

tenacious-at the very least a constant pain in the ass.

74. sugoi- one of three common superlatives that all happen to begin with su-.

The other two are suteki and subarashii. The three are generally interchangeable. However, sugoi often expresses an admiration for someone else’s power or talent, and may be mixed with a sense of dread. It can straddle the line between “awesome” and “awful.” Suteki is most often applied to physical appearance. It’s used most often by women, but it can be applied to both genders. Subarashii is more neutral and can be translated as “great.” Although lacking the su- beginning, kakkoi is a superlative used mostly in describing people-”Cool!” Note: A spoken variant of sugoi is Suge-e!

75. suki- affection, liking.

Also used to signify “love.” If anything, the phrase “Suki da.” is even more ambiguous than the English “I like you.”

76. suru- to do.

A frequently occurring phrase is “Dou shiyou?,” meaning “(Oh,) What shall I do!”

77. taihen- when modifying an adjective, it means “extremely.”

When it describes a situation without any other adjectives, it means “terrible.”

78. tasukeru- to aid.

The exclamation “Tasukete kure!” = “Help me!/Save me!”

79. tatakau- to fight, do battle.

80. teki- enemy.

81. tomodachi- friend.

82. totemo- very, extremely.

It can be pronounced tottemo to indicate extra enthusiasm.

83. unmei- fate, destiny.

84. uragirimono- traitor.

85. ureshii- happy.

As an exclamation, Ureshii! Can be translated as “I’m so happy!” or even “Whee!”

86. urusai- noisy.

When used as an exclamation, it’s best translated as “Be quiet!” and occasionally “Shut up!” Usse-e! is a spoken variant.

87. uso- a lie.

As an exclamation, it can mean “You must be kidding!,” “You lie!,” or “No way!” Spoken variants are Usso! and Ussou. The word usotsuki means “liar.”

88. uwasa- rumor.

89. wakaru- to understand.

Common inflections are wakatta (understood) and wakaranai (don’t understand). Note that the abbreviated forms of wakaranai are gender specific, with women favoring wakannai and men likely to say wakaran or wakanne-e.

90. wana- trap, snare.

91. yabai- miserable, wretched (situation).

As an exclamation, this can be translated as “This is bad!” or an emphatic “Uh-oh.”

92. yakusoku- promise, oath.

93. yameru- to stop, quit, terminate.

The exclamation Yamero! can be translated as “Stop (it)!” or “Enough!”

94. yaru- this verb has several meanings.

It’s a deferential form of the verb “to do.” It’s also a form of the verb “to give” reserved for gifts made to social inferiors (and plants and animals). Finally, it can mean “to try, attempt.”

95. yasashii-

although pronounced the same as the Japanese word for “easy,” in anime it’s more likely to refer to the character for “splendid, exceptional.” For example, yasashii seikaku means “good-natured” and yasashii hito means “a great guy.”

96. yatta-

probably originated as the past tense of yaru, but has long since taken on an independent meaning. Used to proclaim victory or good fortune. Possible translations include “Hooray!,” “Banzai!,” “I did it!,” and “Yay!”

97. yoshi- an exclamation used when readying oneself to take an important action.

Possible translations include “Here I come!,” “All right (,then)!” Spoken variants are yosshi and yo-oshi!

98. youkai- an occult monster.

Sometimes used as a general term for occult phenomena.

99. yume- dream.

100. yurusu- to forgive, pardon.

Forms of this verb commonly found in anime are O-yurushi kudasai or Yurushite kudasai, meaning “Forgive me!” Even more common is yurusanai/yurusenai. This phrase can be literally translated as “I won’t/can’t forgive you!,” but an idiomatic translation generally requires that attention be paid to the specific circumstances in which the exclamation is shouted or growled. “I will grant no quarter!” might work in some historical periods, but “You’re finished!” would work better in most contemporary settings. Other possibilities which work in certain circumstances are “Your day is done!,” “It’s curtains for you!,” “You’re through!”…you get the idea.

The other vocab that I got from anime was : Kuso (practically is a f word, spokenly very often in OP, hha),  sekai (world), kaizoku (pirates), meshi (meals).


A Word on Pronouns:

I was going to avoid discussing larger questions of syntax and usage altogether. Unfortunately, the pronouns a character reveal so much about personality and background that I feel obligated to try and explain them.

This aspect of Japanese is easily lost in translation, since in English they can only be translated as “I” or “you.” I’m including some personal conjectures in my explanations, so please forgive any errors that may occur.

When using the first person, the Japanese speaker can choose among the following words: watashi, watakushi, atashi, boku, ore, sessha, washi, and atai. This list is by no means complete, also. All of these terms are translated “I” even though each word has different connotations.

Watashi is polite without indicating deference or formality. Boku is used by young men (and young women actively emulating male behavior). Ore is even more overtly masculine, and implies either that a man is speaking among intimates (at the least that there are no women present) or that he is aggressively macho. Atashi is strictly feminine speech. Watakushi is an older form of watashi.

Today it’s considered slightly more formal, and its use indicates that the speaker is paying conscious attention to decorum. Watakushi is favored by women, but might also be used by men, especially in the service industry. Sessha is an older form, and implies courtliness and modesty. Washi is used by older men in positions of authority. Atai is associated with the lower class.

Japanese second-person pronouns include omae, onore, kisama, anata, anta, kimi, onushi, and temee. In practice, second-person pronouns are usually avoided-something possible because the Japanese language doesn’t demand that the subject be included in a sentence. There are signs that Japanese teenagers and young adults are starting to use omae as an all-purpose pronoun analogous to the English “you.” This practice is not entrenched in the language yet, and older usages still survive, so use omae with caution. Omae is traditionally used in conversation with someone dear to the speaker, and to many Japanese it is this romantic connotation that is the truest sense of the word. Finally omae is used as a familiar form of address, signaling that the speaker is brash, casual , and doesn’t respect convention.

This assumption of familiarity can be taken as insulting. Since omae has so many different (and sometimes clashing) connotations, use it with caution. Kisama is a masculine form of address which can be openly insulting. It seems that in anime the brash, defiant hero can use omae while his villainous counterpart will use kisama to indicate his distaste for the person he is addressing. Onore was once formal usage, but is now considered rude and offensive. Anata is generally used when speaking with social inferiors, and can be made insulting by tone of voice, BUT it also functions as an endearment when a woman uses it to speak with her husband. Anta is a variant of anata used by women, and is not necessarily rude. Kimi is male speech, used when speaking to people you have direct authority over, i.e. a vice-president speaking to the secretary, or a teacher addressing a student. Kimi is also how a boy refers to his girlfriend. Onushi is archaic polite usage, and sounds quaint when used in modern speech.

Third person is easier because Japanese speech favors using title and/or surname. Aitsu and yatsu are the two third-person pronouns that come to mind. Both are extremely casual, and generally slightly insulting. (It appears that yatsu may be preferred when referring to people outside of one’s social class. An absolutely neutral way of referring to some one else is ano hito, “that person.”

Complicating things further is that Japanese speakers actually have a good deal of flexibility in choosing which pronouns they use. The extreme situations found in anime also lead to unorthodox usage. When Ranma changes into a woman, do his speech patterns change? Let’s take Pai from 3×3 Eyes as a specific example. In her normal personality, she refers to herself as “Pai” instead of using a first person pronoun. She may be mirroring the practice of her race’s native language. However, using first-name instead of a first-person pronoun is common practice in Japan among children and child-like people. That’s why Pai’s speech seems natural and appropriate to a Japanese speaker. Conversely, in her “Sanjiyan” mode, Pai refers to herself as washi. That’s because the Sanjiyan personality is inhumanly old and powerful. Some less fantastic examples of unorthodox speech include a male homosexual using feminine speech, and a female juvenile delinquent using masculine pronouns.

Pronouns are an especially complex and frustrating part of the Japanese language, but they can impart a lot of information in a rapid and subtle fashion. This versatility in responding to different situations is one of the Japanese language’s defining characteristic, adding much to the richness and character of its speech.

Tags: , , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.